Spectre Divide Tutup! Kenapa Game yang Didukung Shroud Gagal
Foto Spectre DivideDunia gaming baru saja kehilangan satu lagi game FPS yang sempat digadang-gadang bakal menjadi next big thing: Spectre Divide. Pengembang mengumumkan penutupan game ini hanya enam bulan setelah rilis! Yang membuatnya makin heboh, streamer legendaris Michael 'Shroud' Grzesiek mendukung game ini, dan investor telah mengucurkan lebih dari $60 juta sebelum peluncurannya. Lalu, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Spectre Divide gagal bertahan? Yuk, kita kupas tuntas!

Apa Itu Spectre Divide?

Game ini menghadirkan game FPS taktis 3v3 dengan konsep unik, di mana pemain mengendalikan dua karakter sekaligus dalam satu pertandingan. Pengembang menyebut sistem ini 'Duality Mechanic', yang memungkinkan pemain beralih antar karakter saat bermain, memberikan dimensi strategis baru yang belum ada di game FPS lain. Mountaintop Studios mengembangkan game ini dan merilisnya secara resmi pada September 2024 sebagai game free-to-play. Dengan dukungan dari Shroud serta tim pengembang berpengalaman di studio besar seperti Riot Games dan Bungie, game ini sempat menciptakan hype besar sebelum rilis.

Rilis yang Berantakan dan Review yang Campur Aduk

Game ini langsung menarik lebih dari 400.000 pemain dalam minggu pertama peluncurannya, dengan 10.000 pemain bermain bersamaan. Sayangnya, hype ini cepat meredup gara-gara beberapa masalah:
  • Server bermasalah sejak hari pertama rilis, bikin banyak pemain frustrasi.
  • Bug dan glitch di gameplay yang bikin pengalaman bermain kurang nyaman.
  • Kurangnya konten dan balancing karakter, bikin banyak pemain merasa bosan dalam waktu singkat.
Dari segi kritik, reviewnya lumayan beragam. Beberapa media memuji konsep inovatifnya, tapi banyak juga yang merasa eksekusinya kurang matang. IGN dan PC Gamer masing-masing memberi skor 6/10, sementara Metacritic mencatat rating pengguna di angka 57/100. Baca Juga: Dead by Daylight x Tokyo Ghoul: Ken Kaneki Jadi Killer Baru!

Shroud: Dari Investor Jadi Penonton

Foto Spectre DivideSebagai investor utama, Shroud tentu punya ekspektasi tinggi terhadap Spectre Divide. Dengan reputasinya di dunia FPS, kehadiran Shroud sempat jadi nilai jual utama game ini. Tapi seiring waktu, bahkan Shroud sendiri jarang memainkan game ini di stream-nya. Banyak fans mulai bertanya-tanya, "Kalau Shroud sendiri nggak sering main, gimana mau menarik pemain baru?" Sampai saat ini, Shroud belum memberikan pernyataan resmi soal penutupan game ini. Tapi dari beberapa klip livestream, dia terlihat kecewa dengan bagaimana game ini berkembang.

Kenapa Spectre Divide Gagal?

1. Player Count yang Merosot Tajam Setelah rilis, jumlah pemain turun drastis. Saat musim pertama dimulai di Februari 2025, jumlah pemain puncaknya di Steam cuma 1.000 orang. Ini jauh dari cukup untuk menopang ekosistem game multiplayer. 2. Monetisasi yang Kontroversial Sebagai game free-to-play, Spectre Divide mengandalkan microtransactions buat dapetin keuntungan. Tapi harga kosmetik yang gila-gilaan, dengan beberapa skin mencapai $90! membuat pemain kecewa dan ogah mengeluarkan uang. 3. Kompetisi yang Terlalu Ketat Game ini harus bersaing langsung dengan Counter-Strike 2, Valorant, Apex Legends, dan game FPS besar lainnya. Dengan minimnya konten dan banyaknya masalah teknis, sulit bagi game ini buat mempertahankan pemain dalam jangka panjang. 4. Pengembang Kesulitan Secara Finansial Pada 12 Maret 2025, Mountaintop Studios secara resmi mengumumkan bahwa mereka akan menutup Spectre Divide dalam waktu 30 hari. Mereka juga menyatakan bahwa akan menutup studio secara permanen karena gagal mendapatkan pendanaan tambahan atau menemukan publisher yang bersedia mengambil alih proyek ini.

Apa Kata Devs?

Dalam pernyataan resminya, CEO Mountaintop Studios, Nate Mitchell, mengakui bahwa mereka telah mencoba berbagai cara untuk menyelamatkan game ini, termasuk mencari publisher baru atau akuisisi, tapi semuanya gagal. Dia juga menambahkan bahwa "industri game saat ini sedang dalam masa sulit" dan bahwa mereka "tidak bisa melanjutkan proyek ini tanpa dukungan finansial yang cukup.

Kesimpulan

Game ini adalah contoh nyata bahwa bahkan game dengan investasi besar dan dukungan dari nama besar seperti Shroud bisa gagal kalau eksekusinya nggak matang. Dengan masalah teknis sejak awal, strategi monetisasi yang buruk, dan persaingan ketat di genre FPS, game ini nggak mampu bertahan lebih dari enam bulan. Buat para developer game, ini jadi pengingat bahwa kesuksesan sebuah game bukan cuma soal ide dan hype, tapi juga soal eksekusi, retensi pemain, dan strategi monetisasi yang tepat.  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *